Buka Perkuliahan Perdana STAI Asy-Syuhada, Prof. Hafiz Anshary Dorong Generasi Berilmu, Berakhlak dan Berdaya Saing Global
Dipublikasikan: 02-09-2026
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Asy-Syuhada Pelaihari secara resmi mengawali perkuliahan bagi mahasiswa angkatan pertama dengan menghadirkan Prof. Dr. H. A. Hafiz Anshary, AZ, MA, Rektor Institut Agama Islam Darussalam Martapura. Kegiatan tersebut menjadi momentum penting dalam perjalanan awal STAI Asy-Syuhada Pelaihari sebagai perguruan tinggi Islam yang diharapkan mampu melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan memiliki daya saing.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syuhada Pelaihari, KH. Ahmad Syarifuddin Noor, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Hafiz Anshary yang telah berkenan memenuhi undangan untuk hadir sekaligus memberikan motivasi dan materi dalam mengawali proses perkuliahan di STAI Asy-Syuhada Pelaihari.
“Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Hafiz Anshary yang berkenan memenuhi undangan kami untuk mengawali perkuliahan di STAI Asy-Syuhada Pelaihari,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat terhadap keberadaan STAI Asy-Syuhada. Pada angkatan pertama, tercatat 64 mahasiswa, terdiri atas 33 mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam dan 31 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam.
“Alhamdulillah, angkatan pertama STAI Asy-Syuhada berjumlah 64 orang. Mudah-mudahan semuanya menjadi awal yang baik dan semoga STAI Asy-Syuhada semakin maju ke depannya,” harapnya.
Sementara itu, Ketua STAI Asy-Syuhada Pelaihari, Dr. H. Abdul Ghofur, S.H., M.Kn., dalam sambutannya memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru agar tidak takut menghadapi proses panjang dalam menuntut ilmu.
Ia mengibaratkan mahasiswa seperti berlian yang membutuhkan proses untuk dapat memancarkan cahaya.
“Berlian itu akan bersinar ketika digosok. Begitu juga dengan mahasiswa, harus melalui proses, perjuangan, dan pembelajaran agar mampu memancarkan potensi terbaiknya.”
Menurutnya, ilmu merupakan cahaya yang akan menerangi kehidupan seseorang. Karena itu, mahasiswa hendaknya menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan proses pendidikan sebagai jalan untuk membangun masa depan.
Dalam sambutannya, Ketua Yayasan Pesantren Asy-Syuhada Pelaihari, KH. Ahmad Syarifuddin Noor, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Prof. Dr. H. Hafiz Anshary yang telah berkenan memenuhi undangan untuk hadir sekaligus memberikan motivasi dan materi dalam mengawali proses perkuliahan di STAI Asy-Syuhada Pelaihari.
“Terima kasih kepada Prof. Dr. H. Hafiz Anshary yang berkenan memenuhi undangan kami untuk mengawali perkuliahan di STAI Asy-Syuhada Pelaihari,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas antusiasme masyarakat terhadap keberadaan STAI Asy-Syuhada. Pada angkatan pertama, tercatat 64 mahasiswa, terdiri atas 33 mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam dan 31 mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam.
“Alhamdulillah, angkatan pertama STAI Asy-Syuhada berjumlah 64 orang. Mudah-mudahan semuanya menjadi awal yang baik dan semoga STAI Asy-Syuhada semakin maju ke depannya,” harapnya.
Sementara itu, Ketua STAI Asy-Syuhada Pelaihari, Dr. H. Abdul Ghofur, S.H., M.Kn., dalam sambutannya memberikan motivasi kepada para mahasiswa baru agar tidak takut menghadapi proses panjang dalam menuntut ilmu.
Ia mengibaratkan mahasiswa seperti berlian yang membutuhkan proses untuk dapat memancarkan cahaya.
“Berlian itu akan bersinar ketika digosok. Begitu juga dengan mahasiswa, harus melalui proses, perjuangan, dan pembelajaran agar mampu memancarkan potensi terbaiknya.”
Menurutnya, ilmu merupakan cahaya yang akan menerangi kehidupan seseorang. Karena itu, mahasiswa hendaknya menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan proses pendidikan sebagai jalan untuk membangun masa depan.


Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. H. Hafiz Anshary, AZ, MA menyampaikan materi dengan tema “Integrasi Ilmu Keislaman dalam Membangun Generasi Berakhlak Mulia dan Berdaya Saing Global.”
Dalam pemaparannya, Prof. Hafiz menjelaskan bahwa ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan umum tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya perlu diintegrasikan agar pendidikan mampu melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kekuatan spiritual dan moral.
“Ilmu memberikan kemampuan kepada manusia untuk melakukan sesuatu, sedangkan nilai agama memberikan arah bagaimana ilmu tersebut digunakan secara benar dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa di era global tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, bekolaborasi serta memiliki wawasan global. Namun demikian, seluruh kompetensi tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
“Generasi Muslim harus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan iman dan akhlak. Kita harus terbuka terhadap perkembangan dunia, tetapi tetap memiliki prinsip dan identitas keislaman,” ungkapnya.
Prof. Hafiz juga memberikan motivasi agar mahasiswa STAI Asy-Syuhada memiliki target akademik yang jelas. Menurutnya, mahasiswa yang telah masuk STAI Asy-Syuhada harus berusaha menyelesaikan pendidikan dengan baik dan meraih gelar akademik sesuai program studi yang ditempuh.
Menurutnya, pahala suatu amalan bergantung pada kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakannya. Semakin besar perjuangan dan kesulitan yang dilalui dengan ikhlas, maka semakin besar pula nilai perjuangan tersebut di hadapan Allah SWT.
“Jangan pernah berhenti. Teruslah belajar dan berjuang,” pesannya kepada para mahasiswa.
Di akhir paparannya, Prof. Hafiz berharap para mahasiswa STAI Asy-Syuhada kelak tidak hanya menjadi sarjana yang memiliki gelar akademik, tetapi juga mampu mengambil peran di tengah masyarakat.
Dalam pemaparannya, Prof. Hafiz menjelaskan bahwa ilmu keislaman dan ilmu pengetahuan umum tidak seharusnya dipandang sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya perlu diintegrasikan agar pendidikan mampu melahirkan manusia yang memiliki kecerdasan intelektual sekaligus kekuatan spiritual dan moral.
“Ilmu memberikan kemampuan kepada manusia untuk melakukan sesuatu, sedangkan nilai agama memberikan arah bagaimana ilmu tersebut digunakan secara benar dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Menurutnya, mahasiswa di era global tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga dituntut memiliki kemampuan berpikir kritis, bekolaborasi serta memiliki wawasan global. Namun demikian, seluruh kompetensi tersebut harus tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.
“Generasi Muslim harus mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tanpa kehilangan iman dan akhlak. Kita harus terbuka terhadap perkembangan dunia, tetapi tetap memiliki prinsip dan identitas keislaman,” ungkapnya.
Prof. Hafiz juga memberikan motivasi agar mahasiswa STAI Asy-Syuhada memiliki target akademik yang jelas. Menurutnya, mahasiswa yang telah masuk STAI Asy-Syuhada harus berusaha menyelesaikan pendidikan dengan baik dan meraih gelar akademik sesuai program studi yang ditempuh.
Menurutnya, pahala suatu amalan bergantung pada kesulitan yang dihadapi dalam melaksanakannya. Semakin besar perjuangan dan kesulitan yang dilalui dengan ikhlas, maka semakin besar pula nilai perjuangan tersebut di hadapan Allah SWT.
“Jangan pernah berhenti. Teruslah belajar dan berjuang,” pesannya kepada para mahasiswa.
Di akhir paparannya, Prof. Hafiz berharap para mahasiswa STAI Asy-Syuhada kelak tidak hanya menjadi sarjana yang memiliki gelar akademik, tetapi juga mampu mengambil peran di tengah masyarakat.
.jpeg)
.jpeg)
